After the mine? The Great Challenge Diversification of the County Economics

Berau Menikmati Manfaat Tambang, tetapi Menghadapi Risiko Ketergantungan

Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Kalimantan Timur, sektor pertambangan memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), penerimaan daerah, kesempatan kerja, dan aktivitas ekonomi turunannya. Di sisi lain, struktur ekonomi yang didominasi oleh satu sektor membuat daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas internasional, perubahan kebijakan energi global, serta potensi penurunan cadangan tambang.

Kabupaten Berau saat ini tengah menghadapi fase penurunan struktural kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dalam analisis ekonomi regional, fenomena ini dikenal sebagai senjakala ekstraktif, di mana ketergantungan pada sumber daya yang tidak terbarukan mulai mencapai titik jenuh dan rentan terhadap fluktuasi pasar global. Oleh karena itu, diversifikasi ekonomi bukan lagi sekadar wacana kebijakan, melainkan prasyarat mutlak bagi keberlanjutan fiskal dan kesejahteraan jangka panjang daerah (Portalberau.online, 2026).

Pemerintah Kabupaten Berau secara strategis mulai menggeser paradigma pembangunan dari model ekstraksi menuju penguatan sumber daya lokal yang berkelanjutan, mencakup pemberdayaan UMKM, optimalisasi ekonomi kreatif, dan percepatan hilirisasi. Fokus ini bertujuan menciptakan struktur ekonomi yang lebih inklusif dan tahan terhadap guncangan eksternal.

“Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif tidak bisa terus dipertahankan. Kita harus cerdas melihat potensi sumber daya lokal yang besar dan beragam sebagai solusi masa depan,” tegas Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas (Portalberau.online, 2026).

Langkah transformasi ini, meski menjanjikan, masih dihadapi oleh berbagai hambatan struktural terutama pada aspek infrastruktur pendukung yang menjadi urat nadi distribusi komoditas non-tambang.

Mengapa Diversifikasi Belum Mudah Dilakukan?

Diversifikasi ekonomi bukan sekadar menambah jenis usaha. Tantangan utamanya adalah mengubah struktur ekonomi yang telah lama bergantung pada tambang. Beberapa hambatan yang dapat dibahas meliputi Efek “Zona Nyaman” Ekonomi Tambang yaitu pendapatan yang besar dari pertambangan sering kali mengurangi dorongan untuk mengembangkan sektor lain. Ketika satu sektor masih memberikan hasil tinggi, investasi pada sektor alternatif cenderung kurang menjadi prioritas. Kesenjangan Infrastruktur Pendukung seperti pariwisata, pertanian modern, industri pengolahan, dan ekonomi kreatif membutuhkan infrastruktur yang berbeda dengan industri tambang. Kualitas tenaga kerja lokal selama ini banyak terserap pada sektor pertambangan. Transformasi menuju: industri jasa, ekonomi digital, pariwisata, industri kreatif, membutuhkan kompetensi baru. Hilirasi yang masih terbatas dimana Berau memiliki potensi perikanan, rumput laut, hasil hutan bukan kayu, kakao, kelapa, wisata bahari. Namun sebagian besar masih dijual sebagai produk mentah sehingga nilai tambah ekonomi masih rendah. Diversifikasi tidak dapat dijalankan hanya oleh satu dinas oleh karena itu diperlukan sinergi antara Bappeda, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, Dinas Perindustrian, perguruan tinggi, sektor swasta.

Di Berau, hambatan distribusi logistik akibat kerusakan jalan poros tetap menjadi variabel pengurang daya saing daerah. Ruas jalan Berau-Samarinda, khususnya pada titik rawan longsor di KM 27 dan KM 40, sering kali mengganggu arus barang dan meningkatkan rasio biaya logistik bagi para pelaku usaha (Beraunews.id, 2025).

Untuk merespons tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau mengalokasikan anggaran total sebesar Rp270 Miliar yang terbagi ke dalam 10 proyek prioritas tahun 2025 (Beraukab.go.id, 2025). Secara analitis, paket strategis ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya pemenuhan prasyarat dasar industri dan penguatan konektivitas ekspor:

· Lanjutan Jalan Pelabuhan Mantaritip (Rp30 Miliar): Proyek ini merupakan tautan krusial untuk menurunkan ketergantungan pada pelabuhan di luar daerah, sekaligus memangkas jalur distribusi komoditas unggulan menuju pasar global (Beraukab.go.id, 2025).

· Perluasan SPAM Labanan & Singkuang (Total Rp73 Miliar): Akses air bersih yang stabil merupakan prasyarat teknis bagi operasional pabrik pengolahan hasil perkebunan seperti kakao dan kelapa (Beraukab.go.id, 2025).

· Rekonstruksi Jalan Poros Harapan Jaya-Tepian Buah (Rp20 Miliar): Langkah vital untuk memastikan mobilitas hasil panen dari wilayah hulu di Kecamatan Segah tetap lancar tanpa hambatan cuaca (Beraukab.go.id, 2025).

· Review Jembatan Pesisir: Upaya integrasi konektivitas darat menuju Pelabuhan Mantaritip yang lokasinya berada di tengah muara (Dpupr.beraukab.go.id, 2025).

Sekkab Berau, M. Said, menekankan bahwa ketepatan waktu penyelesaian proyek ini adalah kunci:

“Paket strategis ini merupakan kebutuhan prioritas masyarakat. Kami berharap seluruh tahapan diselesaikan tepat waktu untuk mencapai target pembangunan daerah” (Beraukab.go.id, 2025).

Perbaikan infrastruktur ini secara langsung akan memperkuat pondasi hilirisasi komoditas daratan, terutama kakao.

Hilirisasi Kakao: Sang Calon “Mesin Ekonomi Baru”

Sektor perkebunan diproyeksikan menjadi substitusi utama bagi pendapatan daerah pasca-tambang. Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau kini memfokuskan strategi pada hilirisasi industri guna memastikan nilai tambah komoditas tidak lagi mengalir ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah (Mediatani.id, 2026). Keunggulan komparatif Berau terletak pada kualitas kakao yang telah tersertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kemenkumham, yang memberikan jaminan mutu dan harga premium di pasar internasional (Unhas Repository). Berikut adalah peta transformasi nilai tambah komoditas unggulan Berau:

Tabel 1.1 Visi Hilirisasi dan Dampak Strategis

KomoditasStatus Quo (Bahan Mentah)Visi Hilirisasi (Produk Turunan)Dampak Ekonomi Strategis
KakaoBiji kering asalanBubuk cokelat, lemak cokelat, batangan cokelatPremium price (IG), penyerapan tenaga kerja industri
KelapaBuah kelapa utuhMinyak kelapa, santan kemasan, olahan tempurungDiversifikasi pendapatan petani, substitusi impor pangan

Sumber: Diskoperindag (2026)

Reta Noratni dari Diskoperindag menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah agar nilai tambah ekonomi benar-benar dinikmati oleh masyarakat dan pelaku usaha lokal di Berau, bukan sekadar menjadi penyedia bahan baku bagi industri luar (Mediatani.id, 2026). Keberhasilan visi ini sangat bergantung pada model kemitraan yang menempatkan petani sebagai subjek pembangunan. Dengan dilengkapi agenda transformasi ekonomi yang lebih terukur, termasuk target perubahan struktur ekonomi, roadmap diversifikasi, penguatan hilirisasi, investasi pada sumber daya manusia, dan mekanisme pembiayaan transisi. Strategi ekonomi hijau Kabupaten Berau merupakan langkah maju untuk meningkatkan daya saing sektor unggulan. Namun, agar benar-benar mampu menjawab tantangan ketergantungan terhadap sektor pertambangan, strategi tersebut perlu berkembang dari sekadar diversifikasi sektoral menuju transformasi struktural ekonomi daerah yang memiliki target, indikator, dan peta jalan yang jelas. Lalu bagaimana manfaat ekonomi tambang hari ini dapat menjadi investasi bagi kesejahteraan masyarakat ketika produksi tambang tidak lagi menjadi penopang utama?

Ibarat sebuah keluarga yang memperoleh penghasilan besar dari satu sumber pekerjaan, keputusan yang bijak bukanlah langsung meninggalkan pekerjaan tersebut. Yang lebih penting adalah menggunakan sebagian penghasilan itu untuk membangun usaha lain, meningkatkan keterampilan anggota keluarga, dan menciptakan sumber pendapatan baru. Dengan demikian, ketika sumber penghasilan utama menurun, keluarga tersebut tetap memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Prinsip yang sama berlaku bagi Kabupaten Berau dalam menghadapi masa depan pasca ketergantungan pada sektor tambang.

Model Kolaborasi: Sinergi Swasta, Pemerintah, dan Petani

Kemandirian ekonomi masyarakat Berau pasca-tambang memerlukan ekosistem Public-Private Partnership yang solid. Model ini telah diuji melalui kolaborasi antara PT Berau Coal, Pemerintah Daerah, dan PUSLITKOKA (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) Indonesia. Melalui Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal (YDBBC), diterapkan pendekatan Community Empowerment (Pemberdayaan Masyarakat) yang bertujuan memutus ketergantungan masyarakat pada aktivitas pertambangan (Unhas Repository).

Sinergi ini mencakup penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, hingga pembukaan akses pasar melalui unit usaha “Berau Cocoa”. Keberhasilan model ini tercermin dari prestasi nyata:

· Raihan status “Gold CSR” dalam ajang CSR & PDB Awards 2024 (Unhas Repository).

· Predikat “Biji Kakao Fermentasi Terbaik Nasional” pada tahun 2022 (Unhas Repository).

Filosofi pemberdayaan ini memastikan bahwa ketika izin tambang berakhir, para petani kakao telah memiliki kapasitas manajerial dan teknis yang mandiri. Strategi pengembangan ini tidak berhenti di daratan, namun terintegrasi secara holistik dengan pendekatan landscape-to-seascape menuju wilayah pesisir.

Ekonomi Biru dan Magnet Wisata Penyangga IKN

Berau memiliki keunggulan geografis sebagai “halaman depan” pariwisata bagi Ibu Kota Nusantara (IKN). Kedekatan jarak ini menjadikan destinasi kelas dunia seperti Maratua dan Derawan sebagai captive market utama bagi ribuan aparatur dan pendatang di IKN (RRI.co.id, 2024). Namun, optimalisasi sektor ini harus beriringan dengan prinsip Ekonomi Biru yang mengedepankan konservasi.

Kekayaan ekosistem mangrove Berau yang mencapai 86.000 hektar terluas di Kalimantan Timur merupakan aset ekologis sekaligus ekonomi yang vital (Mongabay, 2026). Guna menyeimbangkan produktivitas perikanan dan kelestarian hutan bakau, dikembangkan pendekatan Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE). Model ini memungkinkan petambak mempertahankan volume ekspor udang sekaligus membuka potensi pendapatan baru melalui Carbon Credit (Kredit Karbon) dari pelestarian mangrove (Mongabay, 2026).

Potensi besar sektor pesisir dibuktikan oleh data perdagangan internasional:

· Ekspor Produk Perikanan: Pengiriman 55,9 Ton udang beku, kepiting bakau, dan bawal ke pasar Singapura dan Shanghai (Mongabay, 2026).

· Komoditas Kerapu: Ekspor sebanyak 120 Ton kerapu hidup ke Hong Kong sepanjang tahun 2024 (Mongabay, 2026).

Integrasi pariwisata bahari dan perikanan berkelanjutan ini memposisikan Berau sebagai pilar pendukung utama bagi ketahanan pangan dan kebutuhan rekreasi kawasan IKN di masa depan.

Conclusion

Menuju Struktur Ekonomi yang Berdaya Saing dan Mandiri

Transformasi ekonomi Berau menuntut konsistensi dalam mengintegrasikan hilirisasi perkebunan, pariwisata kelas dunia, dan penguatan UMKM. Mesin ekonomi baru ini tidak lagi bersandar pada lubang tambang, melainkan pada nilai tambah sumber daya terbarukan dan kreativitas masyarakatnya.

Dalam struktur ini, Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) harus diposisikan sebagai kendaraan institusional akar rumput yang memastikan manfaat ekonomi terserap hingga ke tingkat desa (Portalberau.online, 2026). Melalui penyelesaian infrastruktur strategis dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, Berau optimis dapat membangun kedaulatan ekonomi yang tangguh, mandiri, dan inklusif bagi generasi mendatang.

Author: Happy Nastiti, S.AP., M.AP. (Indonesian CPDS researcher)


Reference

Beraunews.id. (2025). Kabar Baik! Jalan Rusak Berau–Samarinda Segera Diperbaiki, Tuntas 3 Tahun Lagi.

Beraukab.go.id. (2025). Paket Strategis Pemerintah Kabupaten Berau Tahun Anggaran 2025.

Dpupr.beraukab.go.id. (2025). Pembangunan Jalan Menuju Pelabuhan Mantaritip Kembali Dilanjutkan di 2025.

Mediatani.id. (2026). Diskoperindag Berau Fokus Garap Hilirisasi Kakao dan Kelapa, Pacu Nilai Tambah Komoditas.

Mongabay. (2026). Upaya Warga Jaga Mangrove Demi Tambak Berkelanjutan di Berau.

Portalberau.online. (2026). UMKM dan Ekonomi Kreatif Jadi Andalan, Berau Siapkan Arah Baru Ekonomi Daerah.

RRI.co.id. (2024). Pemkab Berau Siapkan Sektor Pariwisata Sambut IKN.

Unhas Repository. (t.th.). Evaluasi Program CSR Pemberdayaan Petani Kakao di Kabupaten Berau (Studi Kasus PT Berau Coal).

Similar Posts