Sustaining Osing Heritage: Peran Pemuda dalam Menjaga Budaya Kemiren
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, menjaga warisan budaya lokal bukanlah perkara mudah. Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi berbagai pengaruh budaya global melalui media sosial, platform digital, dan industri hiburan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana budaya lokal dapat tetap hidup dan relevan di masa depan? Salah satu jawabannya dapat ditemukan di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi. Desa yang dikenal sebagai pusat budaya masyarakat Osing ini memiliki kekayaan tradisi yang masih terjaga hingga saat ini, bahasa Osing, rumah adat tradisional, kuliner khas, hingga ritual budaya seperti Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat (Silalahi & Asy’ari, 2022). Berbagai tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sumber: (Banyuwangikab.go.id)
Meski demikian, keberlanjutan budaya Osing tidak dapat hanya bergantung pada generasi tua. Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap budaya yang mereka warisi (Restu Adi Putra, 2023). Di Desa Kemiren, upaya tersebut terlihat melalui keterlibatan aktif pemuda dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kencana Kemiren. Organisasi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata desa (Oktawirani, 2023). Para pemuda berperan dalam berbagai kegiatan, mulai dari penyelenggaraan festival budaya, dokumentasi tradisi, hingga promosi wisata melalui media sosial. Berbagai cerita tentang sejarah Desa Kemiren, tradisi Mepe Kasur, Barong Ider Bumi, dan kehidupan masyarakat Osing dikemas secara menarik agar lebih mudah diterima oleh generasi muda maupun wisatawan(Arifah & Saputra, 2023). Melalui pemanfaatan media digital, budaya Osing dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional dan internasional.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi budaya lokal. Di Kemiren, teknologi justru dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian budaya salah satu contohnya adalah pendokumentasian digital bahasa Osing melalui program WikiKatha yang memasukkan ribuan lema bahasa Osing ke dalam platform digital internasional, langkah ini menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah sekaligus memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas (Dinda Anggun Lestari, 2025). Selain melalui teknologi, pelestarian budaya juga diperkuat melalui pendidikan. Sekolah-sekolah setempat mengintegrasikan muatan lokal berupa bahasa Osing, sejarah budaya, dan kesenian tradisional dalam proses pembelajaran, di luar sekolah, berbagai sanggar seni aktif memberikan ruang bagi generasi muda untuk mempelajari tari Gandrung, musik patrol, hingga tradisi lisan masyarakat Osing, dengan cara ini budaya tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: (Pewarta.co.id)
Keterlibatan pemuda dalam pelestarian budaya juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan, melalui pendekatan Community-Based Tourism (CBT), masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan desa wisata, pemuda berpartisipasi dalam pengelolaan homestay, promosi wisata, pengembangan produk lokal serta penyelenggaraan atraksi budaya. Wisatawan tidak hanya menikmati pertunjukan budaya, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar tentang kehidupan masyarakat Osing melalui berbagai aktivitas edukatif, pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Ketika budaya memberikan manfaat ekonomi, masyarakat memiliki motivasi yang lebih kuat untuk menjaga dan mengembangkannya (Winarno et al., 2021). Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berorientasi pada menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menciptakan peluang pembangunan di masa depan. Keberhasilan Desa Kemiren tercermin dari berbagai prestasi yang diraih. Saat ini terdapat 18 sanggar seni yang aktif melestarikan kesenian Osing. Desa Wisata Adat Osing Kemiren juga berhasil memperoleh penghargaan ASEAN Homestay Award 2025 serta mendapatkan pengakuan dalam Best Tourism Villages Upgrade Programme dari United Nations Tourism (ZHejiang, 2025). Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki daya saing tinggi ketika dikelola secara kreatif dan melibatkan masyarakat secara aktif. Pada akhirnya, pengalaman Desa Kemiren menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringa, melalui pemanfaatan teknologi, pendidikan budaya, dan partisipasi aktif generasi muda, warisan budaya Osing tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang sebagai sumber identitas, kebanggaan, dan kesejahteraan masyarakat (Oktawirani, 2023). Desa Kemiren menjadi contoh bahwa budaya lokal tetap dapat hidup dan relevan di era digital ketika generasi mudanya berperan sebagai penjaga sekaligus pengembang warisan leluhur.
Author: Reza Eka Lestari, S.AP (Indonesian CPDS researcher)
Reference
Arifah, K. A., & Saputra, M. (2023). Strategi Konservasi Nilai Kearifan Lokal di Era Modern oleh Masyarakat Adat Osing Kemiren. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 8(2), 191–203. https://doi.org/10.21067/jmk.v8i2.8519
Dinda Anggun Lestari. (2025, December 16). Masyarakat Adat Osing Mulai Mendokumentasikan Bahasa Daerah Secara Digital. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. https://www.aman.or.id/news/read/2277
Oktawirani, P. (2023). Sinergi Inovasi dan Tradisi dalam Pengembangan Pariwisata di Desa Adat Kemiren. TOBA: Journal of Tourism, Hospitality and Destination, 2(1), 12–16. https://doi.org/10.55123/toba.v2i1.1852
Restu Adi Putra, I. R. (2023). Peran Tokoh Adat Osing dalam Pemanfaatan dan Penggunaan Tanah Ulayat. Studi Empiris Di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi). UNES LAW REVIEW, 6. https://doi.org/https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i2
Silalahi, A. T., & Asy’ari, R. (2022). Desa Wisata Kemiren: Menemukenali dari Perspektif Indikator Desa Wisata dan Pariwisata Berbasis Masyarakat. TOBA: Journal of Tourism, Hospitality and Destination, 1(1), 14–24. https://doi.org/10.55123/toba.v1i1.104
Winarno, T., Mas, M., & Said, ud. (2021). Pengembangan Desa Wisata Adat Using Kemiren Melalui Pendekatan Penta Helix. Journal of Governance and Local Politics, 3. https://doi.org/https://doi.org/10.47650/jglp.v3i2.298
Artikel:
https://validnews.id/kultura/2025/01/22/desa-wisata-adat-osing-kemiren-raih-asean-homestay-award
https://www.astra.co.id/en/press-release/kampung-berseri-astra-kemiren-receives-the-upgrade-programme-of-best-tourism-villages-by-un-tourism-2025
