Peta Potensi Investasi Kota Makassar: LQ, Shift-Share, Klassen, Dan Implikasi Kebijakan Investasi
Kota Makassar sebagai pelabuhan utama di Kawasan Timur Indonesia tengah menata langkah menuju menjadi pusat investasi yang lebih terarah. Perencanaan investasi kota memerlukan kerangka analitis yang mampu mengidentifikasi keunggulan komparatif, dinamika pertumbuhan, serta pola struktur ekonomi yang relevan untuk kebijakan pengembangan infrastruktur, logistik, dan layanan publik. Studi terkini menunjukkan bahwa tiga kerangka analitis Location Quotient (LQ), Shift-Share Analysis (SSA), dan Tipologi Klassen sering digunakan secara bersamaan untuk memetakan sektor unggulan dan prioritas kebijakan (klasifikasi berdasarkan pertumbuhan dan kontribusi terhadap PDRB) di berbagai kota besar Indonesia maupun wilayah pesisir. Pemetaan ini penting karena dapat memandu alokasi insentif fiskal, kemudahan perizinan, serta kolaborasi lintas OPD demi mendorong investasi yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya pada sektor-sektor kunci seperti transportasi, maritim, perdagangan, pariwisata, real estate, dan industri pengolahan.
Location Quotient (LQ) sebagai indikator keunggulan komparatif kota. Sektor dengan LQ > 1 menunjukkan spesialisasi kota yang lebih tinggi dibanding referensi (provinsi) sehingga bisa dijadikan basis untuk ekspansi investasi. Pemanfaatan LQ telah dipakai untuk mengidentifikasi sektor unggulan di Makassar maupun kota lain di Indonesia, dengan fokus pada sektor perdagangan, akomodasi dan makan minum, serta informasi dan jasa professional.
Shift-Share Analysis (SSA) membedakan kontribusi pertumbuhan sektor menjadi growth effect (dorongan nasional) dan structural/competitive effect (kinerja relatif kota). SSA membantu mengarahkan kebijakan pada sektor yang menunjukkan dinamika positif di tingkat kota meskipun tren nasional berubah, sehingga investasi dapat difokuskan pada fasilitas logistik, peningkatan kapasitas CBD, dan jaringan perdagangan yang lebih efisien. Tipologi Klassen mengklasifikasikan sektor berdasarkan dua dimensi: laju pertumbuhan dan kontribusi terhadap PDRB. Sektor pada kuadran I (maju cepat) dan III (berkembang) menjadi fokus utama untuk prioritas investasi, sedangkan kuadran II/IV menandakan perlunya intervensi struktural agar bergerak menuju kuadran yang lebih tinggi.
Salah satu sektor unggulan dan potensi wilayah. Sektor unggula yakni Industri Pengolahan; Akomodasi dan Makan Minum; Transportasi dan Pergudangan; Perdagangan; Real Estate; Pariwisata. Sedangkan fokus wilayah kota: Utara untuk logistik dan kota baru; Tengah untuk CBD dan perdagangan; Pesisir Barat untuk warisan dan pelabuhan; Selatan untuk properti dan rekreasi. Kerangka ini sejalan dengan potensi LQ/SSA/Klassen yang menunjukkan konsentrasi kegiatan di sektor jasa, infrastruktur, dan layanan terkait pariwisata serta logistik di kota pesisir.
Sektor unggulan Makassar yang konsisten muncul melalui kombinasi LQ/SSA/Klassen yakni Industri Pengolahan, Akomodasi dan Makan Minum, Transportasi dan Pergudangan, Perdagangan, Real Estate, dan Pariwisata. Kerangka kerja menunjukkan bahwa kota pesisir yang berperan sebagai hub logistik akan mendapatkan manfaat besar dari TOD dan penguatan infrastruktur logistik, termasuk revitalisasi dermaga seperti Lanyukang, Barrang Caddi, Buloa, dan Muara Jeneberang. Pariwisata terpadu menggarisbawahi potensi heritage dan bahari dengan ekowisata, eco-resort, serta paket rekreasi. CBD dan perdagangan diperkaya melalui peningkatan kapasitas ritel, layanan profesional, dan insentif perizinan. Real Estate akan tumbuh sejalan dengan kemudahan regulasi dan infrastruktur publik yang memadai untuk mobilisasi arus investasi. Tantangan utama tetap terkait dengan hambatan birokrasi dan kepastian hukum yang memerlukan koordinasi lintas level pemerintahan serta komitmen Dewan Investasi untuk menyederhanakan prosedur perizinan dan meningkatkan transparansi data investasi.
Data konseptual pendukung: Literatur regional dan studi kota lain menunjukkan bahwa sektor jasa, infrastruktur, perdagangan, dan logistik cenderung menjadi pendorong utama investasi di kota pesisir maupun metropolitan. Contoh studi Surabaya dan Kalimantan Timur menunjukkan bagaimana LQ/SSA/Klassen dapat mengarahkan investasi pada sektor transportasi, akomodasi, informasi, dan jasa perusahaan, serta bagaimana kebijakan perizinan dan promosi investasi dapat mempercepat realisasi proyek. Analisis perbandingan antara Makassar dan kota lain juga menunjukkan nuansa perbedaan hasil karena periode data, referensi wilayah, dan definisi sektor yang berbeda, sehingga pembaruan berkala data menjadi penting. Jadi, Peta Potensi Investasi Kota Makassar yang dibangun melalui kombinasi LQ, SSA, dan Klassen memberikan kerangka analitis yang kuat untuk mengidentifikasi sektor unggulan dan potensi wilayah. Enam sektor utama Industri Pengolahan; Akomodasi dan Makan Minum; Transportasi dan Pergudangan; Perdagangan; Real Estate; Pariwisata berpotensi menjadi motor penggerak pertumbuhan jika didukung oleh kebijakan investasi yang memudahkan, insentif fiskal yang tepat, dan koordinasi lintas OPD melalui Dewan Investasi. Fokus wilayah yang terarah (Utara, Tengah, Barat, Selatan) mendukung upaya konsisten untuk mengoptimalkan infrastruktur TOD, pelabuhan, dan destinasi pariwisata terpadu. Tantangan birokrasi nasional tetap perlu diatasi melalui advokasi kebijakan dan transparansi data. Dengan demikian, Makassar berpeluang menjadi kota metropolitan yang inklusif, berdaya saing, dan mampu menarik investasi berkualitas tinggi dalam dekade mendatang. Pembaruan data berkala dan penyajian grafik/tabel interaktif dapat memperkaya pemahaman publik dan memperkuat akuntabilitas kebijakan investasi.
Penulis: Durratun Nashihah & Sugiyono (Peneliti CPDS Indonesia)
